Selasa, 16 April 2013

Selasa, 09 April 2013

taman


poto copy akpar mataram


Taman Akpar Mataram


parkir khusus dosen


Dapur (kitchen)


Restaurant and Bar Akpar Mataram


Parkir Khusus Mahasiswa


Cafe Akpar Mataram


Gedung Baru Akpar Mataram


Selasa, 02 April 2013

Keindahan Pantai Pink




PANTAI PINK LOMBOK, DENGAN PESONA PASIR YANG BERWARNA PINK

Pantai Pink Lombok sebenarnya bukan temuan baru untuk Destinasi dan Objek Wisata Lombok. Pantai yang sebenarnya bernama Pantai Tangsi ini disebut sebagai Pantai Pink karena warna pasirnya yang di dominasi oleh warna Pink.  Pantai yang berlokasi di desa kecil Sekaroh, Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur ini merupakan bagian dari Pantai Tanjung Ringgit, namun karena lokasi dan infrastruktur Jalan yang mungkin kurang memadai sehingga Pantai Pink ini menjadi tidak terekspose media dan wisatawan.
Tangsi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan kata “asrama” atau “barak”. Entah bagaimana sejarah awal mulanya, namun jika melirik dari keadaan lingkungan sekitarnya, mungkin di tempat ini dulunya adalah lokasi yang dijadikan markas tentara Jepang. Hal itu dibuktikan dengan adanya gua buatan dan juga sebuah Meriam peninggalan Penjajah Jepang.
Satu hal yang menjadi daya tarik dari Pantai Tangsi / Pantai Pink adalah pasirnya yang berwarna Pink alias Merah Muda. Jika  dan di Indonesia cuma ada dua lho pantai yang berpasir Pink, salah satunya adalah yang berlokasi di Pulau Komodo NTT. Kalau dilihat lebih dekat, sebenarnya warna asli pasir Pantai ini sebenarnya putih, namun karena bercampur dengan serpihan serpihan terumbu karang yang berwarna pink, seiring prosesi alam lalu serpihan serpihan terumbu karang ini kemudian menyatu dan membentuk warna merah muda, apalagi saat terkena air laut dan terpapar sinar matahari, sehingga warna Pink nya jelas sekali terlihat.
Selain pasir pantainya yang berwarna khas pink, Pantai ini juga memiliki panorama alam yang sangat mengesankan. Dikelilingi oleh tebing – tebing yang cukup tinggi dengan berugak (semacam pondok / pendopo) diatasnya yang disediakan untuk  para wisatawan menikmati hamparan lautan lepas. Pemandangan dari atas tebing juga akan membuat anda terpukau dengan panorama indah dibawah tebing. Aroma air laut yang khas, belaian hembusan angin dan suara ombak yang membentur karang membuat hati siapapun yang berkunjung kesini menjadi tenang.
Untuk mencapai lokasi Pantai Tangsi / Pantai Pink membutuhkan waktu dua jam dari Kota Mataram, jarak yang lumayan jauh. Rutenya sama persis dengan Rute menuju Tanjung Ringgit, karena memang lokasi keduanya berdekatan. Hanya saja Pintu masuk Pantai Tangsi berada di sebelah kiri, sekitar 1 KM sebelum Tanjung Ringgit. Nah di Pintu masuknya itu ada petunjuk/ rambu kecil disebelah kiri jalan bertuliskan “Pantai PINK 50 meter”
Pantai Pink  memiliki arus yang cukup tenang dengan deburan ombak yang sangat kecil, sehingga asik untuk bermain – main dan tidak membahayakan. Jika sempat bersnorkeling, maka anda akan dibuat takjub oleh terumbu terumbu karangnya yang sangat indah. Walaupun sebagian titik terumbu terumbu karang yang terlihat hanya berupa sisa sisa terumbu karang yang sudah hancur oleh jangkar – jangkar perahu para Nelayan.


Sendang Gile Water Fall

Tour ini akan membawa kita menjelajahi keindahan alam berupa pemnadangan gunung diutara pulau Lombok, perjalanan kita akan melalui jalan yang mebentang menelusuri tepian pantai yang selanjutnya akan membawa kita memasuki dan menyinggahi sebuah desa tradisional yang disebut Desa Segenter, yang merupakan sebuah desa kaum pegunungan yang masih memilhara dengan ketat gaya hidup sehari – hari dan arsitektur bangunan mereka. Selanjutnya kita akan menuju Air terjun Sendang Gile untuk menikmati keindahahan pemndangan alam dan kesejukan, ketentraman dan kesegaran udaranya> Dan sebagai kunjungan kita yang terakhir adalah Desa Bayan, sebuah desa yang penduduknya masih banyak menganut kepercayaan yang disebut Islam Wektu telu yaitu perpaduan kepercayaan hindu dan islam

Wisata Kerajinan





GERABAH LOMBOK ( Desa Banyumulek, Desa Masbagik, dan Desa Penujak ).

Produk berbahan baku tanah liat ini merupakan salah satu hasil kerajinan tangan rakyat kecil yang sangat spesifik di daerah Lombok. Hasil kerajinan tangan yang satu ini sangat estetis, sehingga tidak mengherankan kalau kalangan pengusaha di Lombok ataupun dari luar daerah berebut memburu gerabah Lombok untuk komoditas ekspor andalan ke sejumlah negara.Produksi gerabah Lombok diminati karena tidak sekadar dijadikan barang pajangan rumah tangga atau perkantoran saja, tetapi juga banyak dijadikan sebagai penghias taman dan perhotelan.Bahkan hampir seluruh hotel berbintang di daerah tersebut menjadikan gerabah sebagai penghias ruangan, taman, suvenir, wadah penyaji makanan, minuman, meja tamu, tempat lilin, asbak, vas bunga, dan sebagainya yang semuanya menghadirkan kesan indah. Gerabah Lombok terdiri dari beraneka bentuk, ragam, rupa, dan ukuran. Begitu juga dengan motifnya, selain sebagai nilai seni juga menghadirkan nuansa khas tradisional Sasak.
Selama ini gerabah Lombok yang diproduksi di antaranya berupa gentong, gentong lada, asbak, piring, cobek, mangkuk, lampu taman, cerakin, tempayan, tempat obat nyamuk dan lilin, patung-patung kecil, penghias meja dan dinding, tempat buah, kendi, bunga kuping empat, penculakan, kaling jeger, kimbing, speaker, gentong air mancur, belanga, botol, pas bunga, dan sederet jenis lainnya. Biasanya setiap motif yang dibuat selalu disesuaikan dengan jenis dan ukurannya. Ada motif bunga, hewan, topeng, subahnale (subhanallah), motif berugaq, dan berbagai motif lainnya sehingga lain gerabah lain pula kesan keindahan yang ditimbulkannya. Apalagi dengan ditambahkan ilustrasiseni, seperti hiasan anyaman rotan, koin, kerang, culi, sehingga tampak cantik. 









KERAJINAN CUKLI RUNGKANG JANGKUK

Berjalan seiring dengan berkembang majunya pariwisata di Lombok, sejak 1986, muncul pusat pengrajin di Lingkungan Rungkang Jangkuk yang berada di Kelurahan Sayang-Sayang Kota Mataram. Letaknya, di pinggiran utara-timur kota, sekitar empat kilometer dari pusat kota. Semula, warga di sana dalam kehidupan sehari-harinya adalah penghasil periuk tradisional untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, tidak banyak bisa memperoleh nafkah. Kemudian, adanya permintaan barang antik untuk menyuplai kebutuhan barang antik oleh art shop di Bali, menarik warga Rungkang ikut berburu keliling pelosok desa di pulau Lombok.

Alkisah, waktu itu banyak benda-benda peninggalan zaman dahulu yang bisa diperoleh warga Rungkang Jangkuk yang berdagang barang antik tersebut. Ada keris, guci, keramik, berugak (tempat duduk-duduk khas Sasak di luar rumah), pintu, jendela ataupun benda lainnya diantaranya adalah kontak antik untuk menyimpan barang di kalangan orang Sasak. ‘’Setelah sulit mendapatkan barang-barang antik, ada muncul gagasan baru. ‘’Membuat sendiri kotak antik yang memang disukai pengumpul barang antik,’’ ujar Haji Tahpi, 48 tahun, salah seorang warga di sana yang juga pernah berdagang barang antik ke Bali.

Sejak itulah, Rungkang Jangkuk dikenal sebagai pusat kerajinan di kota Mataram. Tidak hanya kunjungan pejabat atau tamu daerah yang berkunjung diajak singgah ke sana, tetapi para wisatawan mancanegara (wisman) pun mendatanginya. Di sepanjang jalan lingkungan Rungkang Jangkuk berdiri art shop milik penduduk di sana. Ada Jambu Crafts, Rara Handycraft Shop dan Koperasi Pade Angen yang beranggotakan 115 orang pengrajin setempat.

Semula, Rungkang Jangkuk dikenal sebagai pusat produksi kerajinan kotak antik yang dibuat warga. Menggunakan bahan pelepah aren atau pandan yang dihiasai oleh . Namun, tidak bertahan lama. ‘’Bahannya sulit diperoleh,’’ ujar salah seorang warga pengrajin kotak antik Muhajab, 28 tahun. Sejak tiga tahun terakhir ini, ia beralih menjadi pekerja yang menghasilkan produksi Cukli.
 Cukli Rungkang Jangkuk

Apa kerajinan cukli itu? Cukli adalah nama dari kerang yang didatangkan dari luar daerah seperti Sulawesi, Flores atau bahkan dari Jawa. Kulitnya yang keras itu berwarna putih gading. Nah, kulit kerang itulah yang dipotong kecil-kecil berbentuk wajik dijadikan penghias kerajinan di sana dalam berbagai rupa disain. Ada meja dan kursi, lemarin, dinding sketsel pemisah ruang, kotak barang, kotak perhiasan, asbak, tempat buah, rehan – tempat kitab Al Qur’an untuk mengaji, topeng atau patung primitive dan binatang yang digemari oleh wisman. Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Nusa Tenggara Barat Fatwir Uzali mengatakan : ‘’Kerajinan cukli memberikan wahana baru obyek kerajinan Sasak.’’ Kerajinan di situ menggunakan bahan baku kayu mahoni yang berkwalitas sehingga tidak mudah rusak. Apalagi warnanya yang hitam kecoklan menjadi identik dengan kesenian Aborigin.

Menurutnya, kerajinan cukli ini menjadi luar biasa daya tariknya bagai wisatawan yang datang ke Lombok. Sebab, adanya kerajinan cukli ini memberikan citra tradisional dari kata lain desain Lombok Primitive yang membuat tamu-tamu wisatanya berdecak kagum. ‘’Para pemandu wisata akhirnya menyebut ukiran cukli itu Lombok Primitive,’’ ucapnya.

Maka tidak heran kalau wisatawan yang berkunjung sangat tertarik ingin tahu lebih banyak produksi kerajinan cukli tersebut. ‘’Banyak orang tertarik cukli. Orang Eropah ataupun Timur Tengah menyukainya,’’ kata Fatwir yang menyebut pemandu wisata tidak sekedar mengajak tamunya mendatangi art shop namun juga datang ke sentra mereka bekerja di lingkungan rumah pemilik usaha.

Kalau kita masuk ke Rara Handycraft milik Haji Ahmad Faozi. di sana ada Sri Muawanah, adik kandung dari pemiliknya yang menunggu pengunjung. Terlihat di dalam ruang yang berkuran sekitar enam meter lebar 10 meter, ada sofa lengkap yang harganya Rp7 juta, peti kotak kayu ukuran kecil 45 senti – 30 senti harganya Rp900 ribu dan yang lebih besar 75 senti- 30 senti seharga Rp1,25 juta. Sebuah baki tergantung ukurannya dijual Rp50 ribu – 75 ribu, satu set tiga unit tempat buah Rp250 ribu, dinding sketsel pemisah ruang tamu Rp4,5 juta atau rehan untuk menempatkan kitab Al Qur’an seharga Rp60 ribu. ‘’Barang-barang ini yang disukai pengunjung,’’ ujar Sri Muawanah.

Hampir sama isi jualan art shop di sana, Jambu Crafts diantaranya menyediakan lemari kristal untuk memajang koleksi perhiasan atau benda kerajinan yang tingginya 210 senti berdinding kaca dijual Rp3,5 juta. Atau ada pula mangkok untuk permen dan buah yang harganya mulai dari Rp50 ribu sampai Rp150 ribu. Menurut Suci yang menjaga Jambu Crafts, yang laku diminati adalah mebel yang diberi hiasan pernik-pernik cukli itu. ‘’Yang banyak dibeli ya kursi dan kotak perhiasan,’’ ucapnya. Di sana, satu set kursi dijualnya Rp7,5 juta.

Mengenai penjualan setempat, Ketua Koperasi Pade Angen Haji Sagir mengatakan art shop yang dipimpinnya yang mampu menampung hasil kerajinan 115 orang anggotanya, dalam setahun terakhir ini, bisa mendapatkan keuntungan Rp8 juta. ‘’Walaupun situasi kunjungan wisman belum pulih seperti sebelum bom Bali,’’ katanya.

Tentu bukan hanya menunggu pengunjung wisatawan, untuk bisa menjual dagangannya tersebut. Ada pula pemesan produksi mereka dari mancanegara, seperti Ameriksa Serikat, Belanda, dan Jepang. Pemilik Rara Handycraft Haji Ahmad Faozi menjelaskan melayani orang-orang lokal Mataram hingga Jakarta untuk keperluan mebel (furniture) rumah tangga.

Sagir pula yang menyebut kerjainan di kampungnya itu memberikan peluang kerja pemuda sehingga mengurangi terjadinya pengangguran. Di sana, menurutnya, pengangguran dibilang tidak ada. ‘’Malah datang dari luar desa bekerja di sini. Apalagi kalau musim ramai pesanan, kekurangan tenaga,’’ ucapnya. Sebab diantara 50an pengusaha art shop di kampungnya, setidak-tidaknya ada tempat bekerja tiga orang pengusaha besar di sana.

Termasuk Haji Ahmad Faozan yang melibatkan 10 orang pengrajin yang menyelesaikan penggarapan produksinya mulai dari menatah motif, memasang cukli, menggosok amplas, menembel dempul, mengecat atau plitur. Setiap bulan ia menghasilkan tiga set kursi untuk persediaan dijual. Untuk satu set kursi, pengerjaannya memerlukan waktu sampai tiga bulan. Karena itu, kesibukan di rumahnya selalu ramai dengan pengrajinnya. ‘’Bulan ini bekerja penuh kecuali hari Minggu libur,’’ ujar Sahrun yang ditemui sewaktu mengerjakan motif hiasan meja berbentuk peti.

Misalnya Hasim, 22 tahun, yang hanya berpendidikan SMP sudah lima tahun terakhir ini menjadi penatah ukiran. Siang itu, sesuai motif batik yang dipegangnya ia mengerjakan daun pintu kotak. ‘’Ongkosnya borongan,’’ ucapnya. Untuk satu pekerjaan menatah motif, memasang cukli atau dibayar Rp150 ribu yang bisa diselesaikan dalam waktu enam hari. Tetapi ada juga ongkos harian yang diberikan kepada pengrajinnya seperti Mardawa, 23 tahun yang hanya berpendidikan SD, diupah Rp30 ribu untuk pekerjaannya melakukan finishing kotak perhiasan.

Seorang pengusaha artshop Sudirman di Senggigi Lombok yang menjadi perintis usaha barang antik di Lombok mengatakan bahwa produksi Rungkang Jangkuk sewaktu musim ramai wisatawan yang datang ke Lombok banyak dikirim ke luar negeri. Setiap dua minggu tidak kurang dari satu truck yang diberangkatkan ke Bali. ‘’Sekarang memang lagi sepi wisatawan,’’ ujarnya mengenai kurangnya penjualan barang kerajinan di sentra kerajinan Rungkang Jangkuk.

Sudirman, yang juga menjadi pengusaha pembina pengrajin di sana, menyebutkan kotak antik dibuat dari pelepah enau itu dihiasi oleh kerang. Sedangkan peti yang terbuat dari kayu dihiasi cukli. Penggunaannya sama, untuk tempat menyimpan barang pada zaman dahulu. ‘’Yang diminati motif tradisional. Awalnya memang dari kotak antik peninggalan zaman dahulu,’’ katanya.





ANYAMAN KETAK / ROTAN DESA BELEK

Pulau Lombok yang terletak di Nusa Tenggara Barat terkenal sebagai salah satu destinasi wisata Indonesia yang dikenal luas baik oleh turis lokal maupun mancanegara. Sebagai daerah tujuan wisata, tentunya di Lombok tumbuh seni-seni kerajinan tangan yang sangat digemari oleh turis untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Namun ternyata, sebelum Pulau Lombok menjadi terkenal pun, seni kerajinan tangan sudah sejak lama dibudidayakan dan menjadi tradisi orang Sasak (masyarakat adat di Lombok). Banyak desa-desa yang bertumbuh menjadi pusat-pusat kerajinan tangan.

Desa Beleka adalah salah satunya. Desa yang terletak 15 km di arah Timur kota Praya, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah ini merupakan salah satu pusat kerajinan tangan, terutama kerajinan rotan dan ketak. Selain rotan, kerajinan lain yang diproduksi adalah kerajinan kayu, keris dan keramik. Sudah lebih dari 25 tahun desa ini menjadi supplier kerajinan rotan untuk dijual kembali di Bali.

Pemandangan para wanita yang bekerja memilin rotan merupakan pemandangan umum yang terlihat sehari-hari di Desa Beleka. Tidak peduli dengan panasnya udara dan teriknya matahari, ibu-ibu duduk beralaskan tikar di depan rumah, memangku rotan di pangkuan sementara tangannya lincah bergerak mengolah rotan menjadi barang kerajinan sambil asyik berbincang dengan ibu-ibu lainnya. Sementara bapak-bapak bertani, ibu-ibu ini membuat kerajinan setelah pekerjaan rumah tangga selesai dikerjakan.

Proses pembuatan kerajinan terbilang cukup sulit dan memakan waktu lama. Batang ketak dan rotan dihaluskan, lalu dianyam atau dipilin sesuai model yang akan dibuat, terakhir dicat dengan pelitur. Dalam sehari dapat diselesaikan 2-3 buah kerajinan rotan yang sederhana. Oleh ibu-ibu pengrajin ini, kerajinan rotan yang cukup simple dihargai Rp 5.000,00 sampai Rp 6.000,00 per buah. Sedangkan modal untuk membeli bahan baku rotan dan ketak sekitar Rp.3.000,00 untuk setiap buah kerajinan. Untuk modalnya, ibu-ibu ini juga mendapat pinjaman PPK. Kerajinan ini lalu dibeli oleh pengepul untuk dijual lagi ke artshop di NTB, pasar Sukowati di Denpasar, bahkan ke luar negeri.
Peminatnya banyak, baik orang Indonesia maupun orang asing. Seiring waktu, permintaan atas hasil kerajinan rotan dan ketak semakin meningkat, bahkan kerajinan ini diekspor ke Malaysia, Singapura, Cina, New Zaeland, Jepang, Amerika Serikat, Australia, Belanda, Inggris, Prancis, Spanyol, Belgia dan Swiss. Tingginya permintaan akan hasil kerajinan ini membuat perajin dan pemilik artshop mendatangkan bahan baku dari luar pulau Lombok seperti Flores, Kalimantan Selatan dan Sumbawa.

Namun ironisnya, harga jual kerajinan di luar desa Beleka dapat mencapai puluhan ribu rupiah, berkali-kali lipatnya. Dari salah satu penjual handycraft diketahui bahwa untuk baki parsel anyaman rotan harganya Rp.35.000,00, untuk copok bundar songket dihargai Rp.20.000,00, nampan dari rotan dihargai Rp.80.000,00, bak sampah Rp.150.000,00, tas anyaman Rp.250.000,00, bahkan keranjang laundry mencapai Rp.300.000,00. Harga yang membengkak ini tidak dinikmati oleh pengrajin karena harga jual dari pengrajin murah. Pengepul dan pemilik artshoplah yang menikmati keuntungannya. Ini terjadi karena kurangnya pengetahuan ibu-ibu pengrajin tentang cara pemasaran dan nilai ekonomi dari pilinan demi pilinan rotan yang dikerjakan dengan peluh dan keringat.

Sebenarnya usaha kerajinan rotan dan ketak ini berdampak besar bagi kehidupan wanita desa. Selain meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya, juga membangun rasa percaya diri dan optimisme wanita karena mereka telah memiliki keterampilan yang bisa menjadi sumber penghasilan di samping dari hasil bertani. Namun kurang matangnya strategi pemasaran dan pengetahuan akan nilai jual kerajinan membuat berkurangnya manfaat yang didapat. Agar dapat maksimal, perlu dibuat kelompok wanita yang kompak bekerja sama mulai dari persiapan, perencanaan, produksi kerajinan, pemasaran sampai monitoring dan evaluasi. Dengan bekerja secara berkelompok, akan tumbuh rasa kebersamaan dan kekeluargaaan sehingga setiap wanita dapat berkontribusi baik dengan mengajarkan pada yang belum terampil, maupun mencari cara-cara memasarkan produk. Mungkin perlu adanya intervensi pemerintah, untuk mengevaluasi dan menetapkan harga jual sehingga pengrajin tidak hanya sekedar menjadi buruh produksi.






Mengolah Bambu Menjadi Bahan Anyaman
Bambu ditebang dan dibersihkan ranting-rantingnya, potong-potonglah bambu sesuai dengan ukuran yang diinginkan (bahan yang akan dibuat) sembilunya dikerik sehingga kulitnya yang berwarna hijau bersih. Gunakanlah golok atau pisau raut untuk itu. Cara membelahnya, mula-mula dibagi menjadi dua bagian yang sama besar lalu bagian tadi dibagi dua lagi kemudian dibagi dua lagi. Setiap bagian berukuran seperempat. Begitu seterusnya sampai diperoleh bagian seperenambelas bagian. Setelah itu dijemur selama lima atau tujuh hari baru kemudian dilanjutkan.
 Salah satu sentra IK. Kerajinan Anyaman Bambu di Kabupaten Lombok Timur adalah di Desa Loyok Kecamatan Sikur. Berdasarkan letak geografisnya desa ini sangat strategis karena merupakan jalur pariwisata yaitu, Tetebatu dan Otak Kokok sehingga cukup potensi untuk didatangi oleh wisatawan lokal dan manca negara.


Minggu, 31 Maret 2013

WISATA KULINER

Setelah share resep Pelecing Kangkung sebelumnya, kali ini budayasasak.blogspot.com akan membeberkan  kembali rahasia resep salah satu masakan khas suku Sasak Lombok, yaitu Pelecing Manok atau Pelecing Ayam.
 Sesuai namanya, Pelecing adalah makanan yang pedas khas budaya sasak. Pelecing Manok atau Pelecing ayam ini merupakan makanan pedas dengan komoditi utama manok/ayam.
Berikut ini rahasia resepnya sesuai dengan yang sering Ibu saya masak:
1. Bahan selain bumbu:
- Manok/ayam muda, jumlahnya sesuai selera, namun kali ini kita akan membuat dari 1 ekor saja;
- 2 biji buah limau.

2. Bahan bumbu: 
- Bawang putih 3-4 siung atau sesuai selera, namun normalnya adalah 3-4 siung;
- Cabe rawit, untuk yang satu ini saya sarankan minimal 10 biji agar lebih terasa kesan sebagai masakan khas  suku Sasak Lombok yang pedas dan sesuai dengan ciri utama pelecing itu sendiri;
- Terasi, saya sarankan terasi yang telah dibakar/panggang antara 1/2 sampai 1 sdt;
- Garam, dan 1 sdm Gula pasir.

Cara Memasak:
- Sembelih ayam (jika masih hidup),  lalu bersihkan bulu dan keluarkan isi dalamnya, seperti usus, hati, ampela, dll;
- Lebarkan/buka tubuh ayam seperti membentuk berakak;
- Panggang ayam tersebut sampai matang, tapi bukan matang kering;
- Sembari menunggu panggangan ayam matang, tumbuk/haluskanlah seluruh bahan bumbu di atas untuk membuat sambalnya, jika sudah biarkan sambalnya mentah, tidak perlu di masak karena lebih gurih dan segar jika disajikan mentah;
- Lumuri sambal dengan air buah limau;
- Apabila ayam panggang telah matang, maka potong-potonglah sesuai bagian mana yang akan Anda sajikan, misalnya Anda akan mengambil bagian pahanya, maka ambil bagian pahanya lalu tumbuk sedikit di atas sambal agar sambalnya meresap, atau jika tidak Anda dapat dengan sekedar melumuri sambal ke daging tersebut;
- Makanan Pelecing Manok atau Pelecing Ayam telah siap disajikan, masakan khas Suku Sasak dari Budaya Suku Sasak Asli Lombok.

Selamat Mencoba

BANDARA INTERNASIONAL LOMBOK



Bandara Internasional Lombok (BIL) yang telah beroperasi setahun lebih kini semakin ramai penerbangan. Dibanding dengan bandara sebelumnya, Bandara Selaparang, BIL melayani rute penerbangan yang lebih banyak. Hal ini tentu saja positif dilihat dari berbagai sisi, seperti pariwisata, sosial ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Tercatat ada sebelas maskapai penerbangan yang keluar masuk BIL secara reguler, baik domestik maupun internasional.

DESA SADE




Selain terkenal dengan wisata alamnya, Lombok juga memiliki wisata adat dan budaya yang dapat dikunjungi  para wisatawan, baik asing maupun lokal. Ya, wisata budaya kali ini adalah mengunjungi desa adat Sade yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah.

Sade merupakan nama perkampungan warga suku sasak yang masih menampilkan ciri khas suku Sasak secara langsung, yang paling terlihat adalah penggunaan rumah adat Sasak sebagai rumah seluruh warga di sini. Terletak di kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, perkampungan ini dihuni oleh +- 750 jiwa. Sade sangat mudah untuk dikunjungi. Dari Bandara Internasional Lombok, dengan menggunakan kendaraan pribadi hanya membutuhkan waktu antara 15-20 menit ke arah timur Bandara. Dari Mataram, hanya memakan waktu tempuh kurang lebih satu jam dengan berkendara melalui jalur utama menuju pantai Kuta dan Tanjung Ann. Sebagai tambahan informasi, bagi Anda yang akan berkunjung ke Pantai Kuta atau Pantai Tanjung Ann, Anda akan melewati Sade terlebih dahulu sebelum sampai di pantai tersebut.


Tiba di depan perkampungan, Anda akan langsung disambut pemandu wisata yang merupakan warga asli Sade. Pemandu di sini bukanlah pemandu berbayar alias gratis. Anda akan langsung diajak masuk ke perkampungan, tapi di depan gerbang Anda perlu mengisi buku tamu dan memasukkan uang donasi seikhlasnya untuk pengembangan dan pelestarian kampung. Pemandu tadi akan membawa Anda berkeliling kampung, melihat rumah-rumah adat di sana, melihat proses penenunan kain songket khas sasak atau yang disebut proses Nyesek, dan bahkan membawa Anda yang ingin berbelanja oleh-oleh kepada penjual yang ada di dalam perkampungan.

Oke, kita mulai melangkah ke dalam perkampungan. Sepanjang jalan yang dilalui adalah celah antara rumah-rumah adat masyarakat di sini. Sebagian besar masyarakat memanfaatkan pekarangan depan rumahnya untuk berjualan souvenir khas Sasak. Sangat membantu para wisatawan yang ingin membeli buah tangan dari sini karena banyaknya variasi yang dapat dipilih. Paling awal kita akan berkenalan dengan rumah adat yang disebut sebagai Bale Tani. Bale Tani merupakan rumah tinggal bagi masyarakat di sini, terdiri dari dua lantai, berdindingkan anyaman bambu, beratap alang-alang, dan berlantai campuran tanah dengan kotoran kerbau/sapi.



Kita bahas satu-persatu. Lantai pertama disebut juga Bale Luar adalah lantai rumah yang digunakan untuk menyambut tamu, atau bagian rumah paling depan. Sedangkan lantai atas/dua disebut juga Bale Dalam adalah tempat tidur anak perempuan dan juga dapur, dimana di sini terdapat dua kamar. Lantai yang terbuat dari campuran tanah liat dengan kotoran sapi/kerbau, mungkin gambaran awal kita adalah kotor ataupun jorok. Tapi, tunggu dulu karena kotoran sapi yang telah dicampur tanah ini tidaklah berbau, bahkan berfungsi sebagai pengganti semen yang dapat menimbulkan hawa hangat dalam rumah. Lantai ini haruslah selalu diganti atau diperbaharui secara berkala untuk menjaga kondisinya bagus. Atap rumah yang terbuat dari alang-alang tidaklah menjadikan rumah ini bocor ketika hujan, bahkan menurut guide yang menemani saya dan seorang teman menjelaskan bahwa bagaimanapun lebatnya hujan, tidak akan bisa menembus atap alang ini, kecuali jika ada bagian yang bolong. Kemudian dinding dari anyaman bambu menjadikan rumah lebih sejuk karena sirkulasi udara lebih lancar. Tambahan informasi, rumah ini hanya memiliki satu pintu di bagian depan.

Lanjut, kita diperkenalkan dengan sebuah bangunan yang lebih tinggi dari Bale Tani, tapi bukanlah berfungsi  utama sebagai rumah. Ya, inilah Lumbung.


Lumbung inilah yang dijadikan logo Lombok sebenarnya. Bentuk atap Lumbung banyak ditiru oleh bangunan-bangunan pemerintahan. Hampir seluruh bangunan pemerintahan di Lombok mengikuti bentuk atap Lumbung sebagai atap paling depannya, atau paling tidak gapura bangunan tersebut berbentuk seperti Lumbung.
Lumbung ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan, dimana bagian atapnya merupakan ruangan yang dapat dijadikan tempat menyimpan hasil panen atau perabotan rumah tangga masyarakat. Di bagian bawahnya, terdapat semacam serambi yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat, atau sekedar duduk-duduk.

Perjalanan mengelilingi kampung kita lanjutkan, kali ini agak lebih ke dalam, atau tepatnya semakin ke atas karena bentuk perkampungan ini adalah menanjak ke atas. Di puncak paling atas, terdapat masjid. Masyarakat Sade adalah masyarakat Islam, sehingga keberadaan masjid adalah keharusan. Masjid di sinipun kembali menampilkan ciri khas suku Sasak dengan beratapkan alang-alang dan kubahnya berupa setengah gentong terbuat dari tanah, yang orang-orang di sini menyebutnya Beke atau Selau.